Wisata sambil Belajar Sejarah Leluhur

Nagabuntu merupakan suatu desa dikawasan Haranggaol tepatnya di Kabupaten Simalungun. Nagabuntu adalah sebuah desa kecil yang terletak dipinggir kawasan Danau Toba. Dinamakan desa Nagabutu karena dulu konon kabarnya desa tersebut dihuni oleh marga Sinaga dan keturunannya. Walaupun sekarang sudah banyak penduduknya yang bermarga lain selain Sinaga, tetapi stereotype tentang kampung Nagabutu adalah kampung marga Sinaga tetap kuat.

Untuk pergi ke Nagabuntu perlu waktu tempuh sekitar lima sampai enam jam dari Kota Medan, Sumatera Utara  dengan menggunakan jalur darat yaitu mobil pribadi. Bisa dibayangkan, itu sungguh merupakan perjalanan yang melelahkan tetapi menarik. Memang perjalanan yang membutuhkan waktu 6 jam ke Nagabuntu seperti sebuah cobaan bagi orang yang suka “mabuk” dalam perjalanan, karna harus menahannya selama enam jam. Akan lebih baik jika menyediakan makanan dan minuman ringan ditambah dengan bantal dan baju hangat, karena udara yang dingin dalam perjalanan pasti sangat terasa. Tapi jika sudah sampai di Nagabutu, maka rasa capek atau mabuk pasti hilang dan berganti dengan perasaan ceria.

Haranggaol merupakan gerbang masuk yang harus dilewati untuk sampai ke kampung Nagabuntu. Kira – kira butuh waktu tiga puluh menit sampai empat puluh lima menit untuk sampai ke desa Nagabuntu dari Haranggaol. Jalan dari simpang Haranggaol ke Nagabutu itu agak sempit, hanya cukup untuk dua mobil minibus. Tetapi pemandangan khas Danau Toba yang indah langsung dapat kita nikmati lengkap dengan udaranya yang sejuk.

Sesampainya didesa Nagabuntu, semakin tampak jelas keindahan Danau Toba juga pantainya yang bersih dan membentang panjang dengan pasir putihnya yang membentang. Dipantai Danau Toba yang ada didesa Haranggaol, banyak sekali aktifitas yang dilakukan oleh warga setempat. Mulai dari mencuci baju dan peralatan makan, warga yang sedang memandikan kerbau, nelayan yang mencari ikan, peternak ikan mas dengan jaring apung, sampai kepada anak – anak yang sedang bermain di pinggir pantai Danau Toba.

Saya menyempatkan diri untuk menggunakan “solu”, yaitu perahu yang terbuat dari bahan kayu yang tumbuh didaerah setempat. Kayu tersebut diambil, dan dikikis tengahnya sehingga menjadi perahu. Alat penggerak “solu” adalah sebuah dayung dari kayu yang dibuat dari pohon yang sama. Bagi pemula sangat rumit, untuk dapat mengendarai solu karena bentuknya yang pipih dan kecil, sehingga ketika badan kita bergerak maka solu itu juga akan bergerak seperti mau jatuh ke Danau. Tetapi yang anehnya, warga setempat yang sudah biasa memakai “solu” tidak pernah oleng dalam mengendarai solu. Bahkan mereka sanggup berdiri diatas solu dan menebar jala untuk mendapatkan ikan sebagai lauk makan mereka beserta keluarga.

Didesa Nagabuntu juga kita dapat menemukan, rumah – rumah adat Batak Simalungun yang berbentuk rumah panggung yang masih asli keberadaannya, lengkap dengan ukiran Batak Simalungun yang khas pada setiap tembok rumah. Rumah tersebut terbuat dari kayu dan tidak menggunakan paku sebagai perekat antara kayu yang satu dengan kayu lainnya. Bagian dalam rumah tersebut tidak bersekat dan tanpa kamar, hanya ada beberapa kain untuk menutupi

Perlu di garis bawahi bahwa, Marga Sinaga dan keturunannya yang disebutkan sebagai orang asli di Desa Nagabuntu bukanlah Marga dari sub suku Batak yaitu Simalungun. Marga Sinaga aslinya berasal dari Desa Urat, di Pulau Samosir. Ternyata Marga Sinaga yang berada di Nagabuntu merupakan para perantau ke tanah Simalungun. Sehingga bahasa yang dipakai pun, orang setempat menyebutnya bahasa “pesisir” atau bahasa campuran antara bahasa Batak Toba dan bahasa Batak Simalungun.

Dari keterangan di atas ada sebuah cerita yang menarik yang selalu dibahas sehubungan dengan perjalanan sejarah Desa Nagabuntu, yaitu pada awalnya salah seorang Marga Sinaga yang datang ke Nagabuntu dari Desa Urat, Pulau Samosir berhasil menikahi putri dari Raja Purba yang merupakan Raja dari wilayah Saribu Dolok sampai ke Haranggaol termasuk kampung Nagabuntu. Setelah menikahi putri dari Raja Purba, maka Dia diberikan sebuah wilayah dan singkat cerita Marga Sinaga ini pun menjadi Raja di wilayah tersebut dan salah satu dari wilayah tersebut adalah wilayah Nagabuntu.

Dikisahkan Raja Sinaga ini mempunyai enam istri dan memiliki sebuah istana yang indah serta kejayaan. Dan pada perjalanannya terjadilah perang antara Raja Sinaga melawan Raja Purba. Karena wilayah kekuasaan Raja Purba berada lebih tinggi daripada wilayah Raja Sinaga, maka mereka menggulingkan banyak sekali batu untuk memporak – porandakan kampung dari Raja Sinaga termasuk wilayah Nagabuntu. Akhirnya Raja Sinaga beserta keturunannya menderita kekalahan perang dan harus mengungsi ke desa lain.

Dalam pengungsian, beranak cuculah seorang Marga Sinaga tersebut, dan dalam perjalanan hidup dari keturunannya ada yang kembali meminang putri dari Keturunan Raja Purba tadi. Setelah mereka resmi menikah maka keturunan Raja Purba ini memberikan hanya daerah Nagabuntu saja yang kembali ke tangan keturunan Marga Sinaga ini dan status dari Marga Sinaga ini diangkat sebagai Tuan Besar di Nagabuntu.

Dan diakhir cerita Bapak saya berkata, “Supaya kau tahu, itulah cerita leluhur kita.” Saya sempat tersentak dan berpikir, “Pantas saja saya diajak ke sini untuk pertama kalinya”. Tapi dibalik itu semua, saya juga berpikir bahwa memang asal – usul kita harus tetap diberitahukan kepada keturunan kita agar nilai – nilai budaya kita jangan luntur.

 

*gambar pemandangan Desa Harranggaol diambil dari : http://chrisgrrr.files.wordpress.com/2010/06/harrangaol.jpeg

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s