Samosir, I Miss You

Pulang kampung merupakan sesuatu pengalaman yang indah, yang tidak mungkin bisa terlewatkan. Apalagi bagi para perantau yang mencoba mengubah nasib ke tanah perantauan, momen – momen dikampung mejadi sesuatu yang sangat berharga. Apalagi orang – orang terkasih banyak yang tinggal dikampung, seperti ayah, ibu, kakek, nenek, saudara, dan sanak keluarga. Tapi apa boleh dikata, untuk mendapatkan hidup dan pendidikan yang lebih baik, maka saya harus meninggalkan kampung halaman.

Ketika berangkat dari Pulau Samosir dan sampai di tanah perantauan, yaitu Kota Jakarta saya agak merasa asing dan tidak biasa, karena orang – orangnya dan gaya hidupnya sangat berbeda dengan dikampung halaman. Itu disebabkan Kota Jakarta mempunyai banyak sekali keragaman budaya, agama, bahasa, dan adat – istiadat. Mau tidak mau maka saya harus belajar berbaur dengan banyak orang walaupun ada juga teman – teman satu suku yang merantau ke Jakarta, tapi mereka pun tidak sepenuhnya membawa adat istiadatnya dikampung, bahkan ada yang sudah tidak memakainya lagi.

Walaupun sudah membisakan diri, tetapi sifat asli saya yang mencerminkan asal – usul saya tidak dapat dirubah, padahal sudah banyak cara yang saya lakukan untuk itu. Seperti mengubah logat berbicara, intonasi nada dalam berbicara, sampai pada mengubah selera makanan sudah saya lakukan tetapi tetap saja tidak bisa berubah. Mencoba berbagai macam bentuk makanan baru di Jakarta bukan merupakan hal yang mudah. Karena banyak makanan yang ada di Jakarta tidak cocok dengan  lidah saya yang masih doyan makan masakan kampung. Belum lagi dengan harganya yang mahal. Oleh karena itu terkadang jadi terbayang saat – saat makan dikampung, hampir semua kita bisa ambil tanpa bayar dan kita yang masak sesuai selera. Sehingga hati ini berkata, “kalau dikampung makanannya itu enak – enak tapi kalau di Jakarta makan itu tidak enak lalu pake bayar lagi”.

Udara di kampung yang sejuk, pemandangan yang indah, suasana permai sangat bertolak belakang dengan kehidupan Jakarta. Macet, kebanjiran, kekeringan, polusi, panas, dan macet merupakan gambaran yang bisa didapatkan di Jakarta, yang pastinya berbeda jauh dengan dikampung. Selama dikampung saya tidak pernah merasakan kebanjiran, kekeringan air, polusi udara, apalagi kemacetan. Dikampung setiap orang bahkan bisa mandi 24 jam dengan air sejuk, air minum langsung minum dari sebuah pancuran yang berasal dari mata air tanpa dimasak, dan mau kemana – mana tinggal jalan atau naik sepeda sambil menikmati pemandangan yang indah dan udara yang sejuk.

Sedangkan di Jakarta, dikota yang besar dan maju keadaan sangat terbalik. Pemandangan banjir dan macet seperti sebuah menu santapan wajib bagi setiap mata orang yang tinggal di Jakarta. Jakarta yang lucu, terkadang air meluap sampai banjir tapi ada kalanya warga Jakarta sangat kesulitan mendapatkan air. Itu dialami semua warga Jakarta juga termasuk saya yang baru merantau ke Jakarta. Sepertinya kota besar seperti Jakarta tidak mampu untuk menagatasi problem – problem tersebut.  Dan yang paling lucu adalah ketika mengingat ada kolam air panas dikampung, disitu setiap orang boleh mandi gratis tapi kalau orang Jakarta mandi spa dengan air panas harus bayar sampai ratusan ribu.

Di Jakarta, orang – orang seperti hidup sendiri – sendiri tanpa memikirkan orang lain. Walaupun itu ada benarnya, buat apa kita mengurusi urusan orang lain yang bukan urusan kita. Tapi dengan prinsip “siapa lo siapa gue” di Jakarta, keakraban dan budaya gotong royong menjadi hampir punah bahkan sudah tsangat jarang dipratekkan. Kalau dikampung budaya gotong royong masih melekat karena ada banyak kegiatan yang dapat dilakukan bersama, misalnya seperti dikampung saya membangun balai desa, lomba kebersihan desa, membangun gedung pertemuan adat, pesta rakyat seperti pesta hasil panen dan lainnya, membangun gereja, pesta pernikahan, acara keagamaan seperti Natal dan tahun baru, dan banyak lagi.

Tapi banyak orang kota yang salah anggapan bahwa, budaya gotong – royong tetap terjaga dengan baik karena ada acara – acara tersebut yang diselenggarakan dikampung sedangkan dikota seperti Jakarta tidak mungkin dilakukan hal – hal seperti itu. Hal itu salah besar, karena sebenarnya orang – orang kampung yang tetap melestarikan budaya gotong – royong itu. Karena ada suatu kesadaran buat orang – orang dikampung bahwa mereka tidak mungkin bertahan hidup tanpa adanya bantuan dari orang lain. Partisipasi aktif tersebut dilakukan oleh setiap warga kampung tanpa bayaran, malah kalau dibayar akan ada rasa sakit hati yang mendalam. Seperti contohnya kalau ada tetangga kita dikampung yang melaksanakan pesta pernikahan maka kita sebagai tetangga ataupun orang terdekat pasti dengan inisiatif sendiri akan ikut ambil bagian dalam mensukseskan acara tersebut, enatah apapun bantuan atau partisipasi yang bisa kita lakukan. Dengan kesadaran tersebut tanpa memandang agama yang dianut bahkan jika orang tersebut berbeda budaya dengan kita. Jika kita tidak berparisipasi aktif maka kita akan merasakan perasaan tidak enak atau merasa bersalah

Sering terjadi orang di Jakarta itu tidak akrab bahkan tidak mengenal tetangga samping rumahnya. Padahal kalau dikampung, radius 50 meter dari rumah rata – rata orang dikampung saya saling kenal dengan akrab. Dengan kondisi dikampung, jarak antara rumah ke rumah itu lumayan jauh. Tetapi keakraban dan persaudaraan itu terjalin eratnya. Sampai – sampai sering terjadi ibu – ibu dikampung saya kalau sudah selesai masak sering sekali untuk memberikannya kepada ibu – ibu lain.

Itu yang membuat saat – saat pulang kampung ke Pulau Samosir itu sangat berkesan, apalagi buat para perantau. Karena terbebas dari kepenatan kota tempat merantau Karena keadaan masyarakatnya dan budayanya yang masih kental dengan gotong – royong. Belum lagi dapat menikmati keindahan alam yang Tuhan ciptakan, yang tidak butuh biaya. Lalu bisa makan makanan khas Batak yang enak – enak dan dijamin kesehatannya, karna tidak mengandung penyedap dan pengawet juga bahan dasarnya yang masih segar semua. Tapi yang paling penting adalah bertemu dengan Bapak, Mamak, adik, saudara semua, dan  juga teman – teman satu kampung.

Jadi pengen pulang kampung nih…

 

 

*gambar panorama Pulau Samosir diambil dari: http://3.bp.blogspot.com/_6tQZjP4fLFk/S35e3YJZhAI/AAAAAAAADIo/EeMPbcfIQ0s/s400/PulauSamosir8.jpg

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s