Fenomena Waria di Indonesia ditinjau dari Perspektif Etika

        

Kita semua mengenal waria (wanita tapi pria), waria adalah individu yang memiliki jenis kelamin laki-laki tetapi berperilaku dan berpakaian seperti layaknya seorang perempuan. Waria merupakan kelompok minoritas dalam masyarakat, namun demikian jumlah waria semakin hari semakin bertambah, terutama di kota-kota besar di Indonesia. Namun tidak semua orang dapat mengetahui secara pasti dan memahami mengapa dan bagaimana perilaku waria dapat terbentuk.

Minoritas mungkin hanya anomali atau frame yang dibuat sendiri oleh masyarakat kita sendiri. Buktinya, Pada 2008 terdata oleh data Yayasan Srikandi Sejati sebanyak 6 Juta waria ada di Indonesia. Jumlah ini bisa berkembang sampai 200% karena banyak diantara mereka yang tidak terbuka dan tidak memiliki identitas resmi seperti kartu tanda penduduk.

Penyebab adanya perilaku waria tidak dapat dijelaskan dengan sederhana. Konflik identitas jenis kelamin yang dialami waria tersebut hanya dapat dipahami melalui penelitian atau observasi langsung terhadap setiap tahap perkembangan dalam hidupnya. Setiap manusia atau individu akan selalu berkembang, dari perkembangan tersebut individu akan mengalami perubahan-perubahan baik fisik maupun psikologis. Salah satu aspek dalam diri manusia yang sangat penting adalah peran jenis kelamin. Setiap individu diharapkan dapat memahami peran sesuai dengan jenis kelaminnya. Keberhasilan individu dalam pembentukan identitas jenis kelamin ditentukan oleh berhasil atau tidaknya individu tersebut dalam menerima dan memahami perilaku sesuai dengan peran jenis kelaminnya. Jika individu gagal dalam menerima dan memahami peran jenis kelaminnya maka individu tersebut akan mengalami konflik atau gangguan identitas jenis kelamin. Kegagalan pemahaman terhadap peran terkait dengan bagaimana mereka mampu memahami bahwa jenis kelamin menentukan perannya, pria seyogianya harus berperan apa dalam frame ke-laki-laki-an dan wanita harus berperan apa dalam frame ke-wanitaan-nya. Ketika hal ini dilupakan dan malah terjadi disorientasi peran, maka individu secara langsung maupun tidak langsung akan mengalami konflik terhadap dirinya sendiri dalam memahami peran-pera yang telah dibingkai secara ideal ini.

Terkait dengan waria itu sendiri, sosok fisik dan sosok sosial ini yang berkembang dimasyarakat dianggap sangat memamalukan dan suatu aib. Hal ini tidak lepas dari peran media yang menciptaka realitas tersebut. Kita lihat bagaimana pmberitaan di media yang menghukum waria secara tidak adil dalam konsep etika keberitaan yang tidak sesuai. Ia tidak saja tidak dianggap sebagai identitas gender yang otonom, lepas dari kontruksi laki dan perempuan, lebih dari itu ia dikontruksi sebagai bentuk lain yang harus diasingkan baik oleh keluarga atau masyarakatnya.
 Di samping bermasalah dimata agama, waria juga dianggap bermasalah dimata sosial. Hadirnya sosok waria yang berpenampilan molek, bak perempuan “monggoda” yang dietalasekan dijalan jalan besar perkotaan dianggap perusak rumah tangga orang. Bahkan perusak moral masyarakat, terutama kaum laki-laki, sehingga harus dijauhkan dari kehidupan masyarakat umumnya karena tentu saja yang masuk dalam hegemoni wacana seks tunggal. Atas dasar inipulah, negara yang dalam bentuknya seperti polisi, polisi pamongpraja, atau dinas sosial kerapkali melakukan operasi penggerebekan terhadap pangkalan pangkalan waria, saat beroperasi. Bahkan dalam banyak kasus, seperti belakangan ini yang terjadi di Surabaya, atas dasar penertiban sosial, banyak psk, dan waria mengalami tindak kekerasan oleh aparat negara saat terjadi operasi.

 

Sekilas Tentang Waria

 Waria (waria-pria) adalah laki-laki yang lebih suka berperan sebagai perempuan dalam kehidupannya sehari-hari. Sebutan bencong juga dikenakan terhadap waria dan bersifat negatif

Waria dapat diartikan sebagai pria yang dianalogkan dengan perilaku yang gemah gemulai, lembut dan kewanita-wanitaan. Sifat dan perilaku ini bukan dibuat-buat (walau ada beberapa kasus waria yang memang dia dengan sengaja mengubah perilakunya menjadi seperti wanita), tapi sejatinya semua itu berasal dari dalam diri atau bahkan bawaan lahir (gen).

Waria termasuk dalam gangguan kejiwaan yang disebut dengan gangguan identitas jenis kelamin yaitu transeksualism. Transeksualism artinya orientasi seksual kepada sejenis atau homoseksual. Pada jaman sekarang ini, kata sifat homoseks digunakan untuk hubungan intim atau hubungan sexual di antara orang-orang berjenis kelamin yang sama, yang bisa jadi tidak mengidentifikasi diri mereka sebagai gay atau lesbian. Istilah gay adalah suatu istilah tertentu yang digunakan untuk merujuk kepada pria homoseks. Waria itu juga termasuk homoseks tapi dengan penampilan perempuan.

Biasanya ada beberapa ciri-ciri waria yang paling menonjol, diantaranya ;
1. Memiliki bentuk tubuh seperti pria

contohnya : Rahangnya yang kuat, lengannya yang berotot,bentuk paha,dll

  1. Waria biasa memekai pakaian yang cenderung seperti wanita, biasanya pakaian sexy untuk menarik perhatian “sesama jenisnya”.
  2. Waria tidak mungkin memiliki organ tubuh wanita secara alami

Contohnya ; rahim dan payudara

Secara teoritis oleh Bandura mengemukakan ada tiga faktor besar yang sangat mempengaruhi terjadinya penyimpangan atau perubahan sifat dan sikap seorang laki – laki menjadi seorang waria, yaitu ;

1. Biogenik

Seseorang menjadi waria disebabkan atau dipengaruhi oleh faktor biologis atau jasmaniah, dimana yang bersangkutan menjadi waria dipengaruhi oleh lebih dominannya hormon seksual perempuan dan merupakan faktor genetik seseorang. Selain itu, neuron yang ada di waria sama dengan neuron yang dimiliki perempuan. Dominannya neuron dan hormon seksual perempuan mempengaruhi pola perilaku seseorang menjadi feminim dan berperilaku perempuan.

2. Psikogenik

Seseorang menjadi waria juga ada yang disebabkan oleh faktor psikologis, dimana pada masa kecilnya, anak laki-laki menghadapi permasalahan psikologis yang tidak menyenangkan baik dengan orang tua, jenis kelamin yang lain, frustasi hetereseksual, adanya iklim keluarga yang tidak harmonis yang mempengaruhi perkembangan psikologis anak maupun keinginan orang tua memiliki anak perempuan namun kenyataannya anaknya adalah seorang laki-laki.

Kondisi tersebut, telah menyebabkan perlakuan atau pengalaman psikologis yang tidak menyenangkan dan telah membentuk perilaku laki-laki menjadi feminim bahkan kewanitaan.

3. Sosiogenik

a. Keadaan lingkungan sosial yang kurang kondusif akan mendorong adanya penyimpangan perilaku seksual. Berbagai stigma dan pengasingan masyarakat terhadap komunitas waria memposisikan diri waria membentuk atau berkelompok dengan komunitasnya. Kondisi tersebut ikut mendorong para waria untuk bergabung dalam komunitasnya dan semakin matang menjadi seorang waria baik dalam perilaku maupun orientasi sexualnya.

b. Dalam beberapa kasus, sulitnya mencari pekerjaan bagi para lelaki tertentu di kota besar menyebabkan mereka mengubah penampilan menjadi waria hanya untuk mencari nafkah dan atau yang lama kelamaan menjadi permanen.

 

Hasil Wawancara Langsung

 

1. Waria A, umur 27 tahun.

Dimana A adalah seorang pria yang menjadi waria, karena adanya tuntutan untuk pekerjaannya. A adalah seorang penyanyi panggilan di daerah Jawa Tengah. Juga bukan kebetulan si A punya sebuah talenta untuk bernyanyi dengan suara yang seperti wanita. Jadi setiap dia bernyanyi atau menjalankan profesinya sebagai penyanyi di sebuah daerah di Jawa Tengah, maka si A berdandan selayaknya perempuan tulen dan juga diikuti dengan sikapnya yang menyerupai perempuan.

Lama – kelamaan A mengakui bahwa Dia tidak menyadari bahwa sifat dan sikap perempuan yang sebenarnya tidak sengaja. Dia bentuk, perlahan – lahan mempengaruhi sifat dan sikapnya sebagai laki – laki menjadi seperti perempuan. Dan A mengakui bahwa Dia seperti mempunyai dua kepribadian dalam dirinya.

2. Waria B, umur 30 tahun.

Dimana B adalah seorang yang dilahirkan sebagai laki – laki tulen secara fisik. Tetapi B mengakui bahwa semenjak kecil di dalam dirinya ada sebuah kepribadian perempuan yang tidak bisa dia bendung. B mengakui dari kecil hasratnya menjadi seperti perempuan bahkan dia ingin semua orang sekitarnya termasuk orang tuanya mengakuinya sebagai seorang wanita.

B mengakui dirinya tertarik dan menginginkan dirinya tampil cantik dengan mengenakan pakaian wanita layaknya wanita sejati. B juga mengakui bahwa sikapnya yang lemah gemulai dan sifatnya yang seperti perempuan itu sama sekali tidak dibuat – buat dan tanpa adanya paksaan dari pihak mana pun. Sebenarnya dari kecil orang tua si B sangat kecewa dengan keberadaan anaknya ini. Sehingga semenjak orang tua si B mengetahui bahwa anaknya mengalami penyimpangan kepribadian, maka orang tua si B sudah melakukan banyak usaha untuk mengubah sifat anaknya itu. Tapi tetap saja segala usaha yang dilakukan orang tua si B itu tidak berdampak apa-apa.

3. Waria C, umur 25 tahun.

Dimana C adalah seorang yang dilahirkan sebagai laki – laki tulen secara fisik. Tetapi C mengakui bahwa dari kecil dia sudah sering di perlakukan dan di didik seperti layaknya wanita. Diberikan mainan boneka atau masak – masakan bahkan dari kecil si C sudah diajarkan menggunakan pakian wanita juga diajarkan bersolek layaknya perempuan. C mengakui bahwa semenjak Dia masih dalam kandungan, Ibunya mengingini anak perempuan tapi yang lahir malahan seorang anak laki – laki. Sedangkan Ayah C sudah lama meninggalkan C dan Ibunya semenjak C masih berumur 1 tahun.

Oleh karena didikan inilah sekarang C sampai sekarang menjadi seorang waria. C sudah terbiasa dengan kehidupannya sebagai waria bahkan ibunya juga tidak ambil perduli dengan penyimpangan kepribadian anaknya itu. Bahkan Ibunya pun tidak merasa bersalah apa-apa. C juga mengaku sudah mempunyai seorang pacar, yaitu seorang laki – laki. Dan hubungannya dengan pacarnya itu baik – baik saja. Dan C mengaku jika ada uang C ingin menikah dengan pacarnya tersebut.

4. Waria D, umur 28 tahun.

Dimana D adalah seorang pria yang menjadi waria, karena pengaruh lingkungan pekerjaannya. D adalah seorang laki – laki tulen. D mengaku bahwa dari kecil sampai Dia tamat SMA, tepatnya sekitar umurnya 19 tahun, Dia tidak punya masalah dengan kepribadiannya. Tapi memang dari kecil dia sangat menyukai dunia tata busana dan hair stylist. Diantara keduanya, D lebih menyukai dunia hair stylist atau tukang potong rambut. Semenjak SMP, Dia sudah sering mengunting atau memotong rambut temannya. Sehingga semenjak tamat SMA, D memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya untuk menjadi seorang Hair Stylist.

Di tempat sekolahnya itu D banyak bergaul dengan kaum waria yang beberapa merupakan seniornya bahkan Guru atau Dosennya yang mengajarnya di sekolah itu. Mau tidak mau, sedikit demi sedikit D terpengaruh dengan kebiasaan teman-temanya yang waria itu. Tapi D mengakui, entah mengapa dirinya menemukan dirinya sangat nyaman-nyaman saja saat ada di tengah –tengah pergaulannya dengan waria dan D mengakui bahwa dia juga sangat nyaman dalam jika dia mengikuti teman-teman waria yang satu sekolah dengannya. Mulailah D suka menggunakan lipstick pada bibirnya dan make up seperti perempuan pada umumnya. Walaupun pada saat itu Dia belum begitu ingin menggunakan pakian wanita. Demikian juga dengan perubahan sifatnya yang awalnya hanya ikut-ikutan tapi lama kelamaan D mengakui itu menjadi kebiasaannya dalam bersikap.

Keadaan penyimpangan D tambah lebih parah ketika Dia mulai bekerja di sebuah salon ternama di kota Jakarta yang mayoritas pekerjanya adalah waria dan wanita. Dan juga pemilik salon itu adalah juga seorang waria. D di salon tempat Dia bekerja teman – teman warianya itu bukan hanya bekerja sebagai hair stylist di salon itu. Tapi pada malam hari mereka juga bekerja sebagai waria di pinggir jalan sebagai pekerja seks komersial (PSK). Di sinilah D menjadi waria sesungguhya. Selain karena pergaulannya dengan para waria, D juga sering belajar menjadi seorang wanita pada teman – teman seprofesinya di salon itu. Sekarang D juga mengaku, untuk menambah penghasilannya  dan demi menghidupi oran tuanya juga untuk menyekolahkan dua orang adiknya, D juga menjajakan dirinya menjadi pekerja seks komersial (PSK) pada malam hari. Tapi D, juga mengakui bahwa Dia sangat menikmati pekerjaannya sebagai pekerja seks komersial (PSK).

Faktor Penyebab Seseorang Menjadi Waria

 

Berikut disajikan mengenai faktor penyebab para sampel menjadi seorang waria berdasarkan teori yang diungkapkan Bandura yaitu tentang faktor biogenik, psikogenik, sosiogenik :

  • Untuk sampel A, faktornya lebih mengarah pada faktor sosiogenik dimana dia menjadi seperti itu karena adanya tuntutan pekerjaan yang mengharuskan dia menjadi seorang waria, walaupun itu tidak membuatnya tertekan. Kemampuan suara wanita yang dia miliki menjadi modal penting untuk eksis dan bertahan dengan pekerjaannya sekarang. Jaminan pun tidak ada bahwa ketika dia meninggalkan pekerjaannya, dia akan mudah mendapat pekerjaan.
  • Untuk kasus B lebih pada faktor psikologis dimana pengalaman masa kecil yang tidak bisa dia bendung hingga saat ini muncul sifat kewanitaan dalam dirinya. Sifat feminis ini dapat dianalisis dan kemungkinan besar terjadi akibat bawan dari lahir yang bisa disebut ada faktor biogenik yang bermain dalam hal ini. Untuk menelaamnya lebih lanjut diperlukan ilmu biologis yang akan dibuktikan oleh para ahlinya. Kebanyakan sifat gen seksual kewanitaan menjadi hal yang paling mungkin terjadi pada kasus B sehingga muncul sifat wanita tersebut.
  • Untuk kasus C, lebih pada faktor psikogenik dimana didikan masa kecil dengan diberikan boneka. Didandani layaknya wanita telah memunculkan sifat kewanitaan, sehingga dia menjadi seorang waria. Selain itu pengharapan dari ibunya untuk melahirkan anak perempuan menjadi trauma psikologis sendiri yang membuat si anak menjadi waria. Selain itu dalam kondisi sosial, keluarganya akan lebih menerima kalau dia menjadi seorang wanita.
  • Untuk kasus D, lebih pada faktor sosiogenik dimana lingkungan kuliah yang awalnya membentuk dia seperti itu. Keadaan lingkungan sosial pun yang menyebabkan dia seperti itu, masuknya dia dalam sebuah komunitas menjadikan dirinya lebih matang menjadi seorang waria dan memperjelas orientasi seksualnya selanjutnya.

Tinjauan dari sudut  Etika Tentang penyebab terjadinya Fenomena Waria

 

Melihat permasalahan yang muncul dari hasil wawancara di atas, maka dapat dilhat dari perspektif etika untuk menjaga kenetralan dan tetap berpegang pada suasana intelektualis bukan dengan men-judge bahwa tindakan yang dilakukan waria itu salah.

Setelah dikaji dengan seksama dengan menggunakan kerangka Kluckhon tentang permasalahan, maka berikut hasil analisis yang bisa dikemukakan :

  • Pada contoh kasus waria A maka penyebab terjadinya waria dalam kasus ini adalah termasuk dalam masalah Hakikat karya untuk mencari nafkah hidup. Ini dibuktikan pada awal si waria A menjadi waria karena adanya tuntutan untuk dapat melanjutkan atau menyambung kehidupannya. Pilihannya jelas bahwa uang ada di depan mata kalau ia terus melakukan pekerjaan yang membuat dirinya menjadi waria tersebut. Menjadi waria dalam anggapannya adalah salah satu alternatif pekerjaan yang dia pilih untuk dapat melanjutkan kesinambungan kehidupannya. Akhirnya, pilihan pula yang membuat semuanya menjadi seperti itu, dia dapat menikmati pekerjaannya itu dan tidak memilih untuk berganti profesi.

Secara konteks kebebasan eksistensial, apa yang dilakukan si A telah memenuhi konsep kebebasan dan kemerdekaan diri dia sebagai manusia. Tantangan nafkah hidup bukan jadi hal yang utama. Dia pun merasa nyaman dengan profesinya. Tindakan yang dia lakukan bukan berdasar atas paksaan dari orang lain, tetapi kemauan dan kebahagiaan hidup feminis dalam tubuh seorang laki-laki. Hal lain yang dapat diungkapkan bahwa kebebasan sosial terpenuhi bagi dia untuk mengambil dan memberadakan dirinya. Penerimaan masyarakat pun ada karena masyarakat pun nyaman dengan seni yang dia ciptakan ketika menjadi seorang penyanyi dengan suara wanita.

  • Untuk kasus B, dapat dianalisis bahwa dalam kerangka kluckholn, ia menjadi seorang waria karena adanya persepsinya tentang waktu yaitu ia masih menjadi bagian dari persepsi masa lalunya. Yang dapat kita lihat bahwa, masa kecilnya diwarnai dengan sifat-sifat perempuan yang secara pribadi, dia tidak bisa bendung kekuatan kewanitaan yang mucul dalam tubuh laki-lakinya. Masa lalu itu kemudian terperangkap hingga sekarang. Namun, yang menjadi penting bahwa dia merasa nyaman dengan kondisi seperti itu bahkan jati dirinya akan muncul. Secara kebebasan eksistensial bahwa apa yang dilakukan oleh kasus B telah memenuhi aspek kebebasan eksistensial itu sendiri. Tidak ada batasan kebebasan rohani yang membatasi munculnya kebebasan keberadaan itu sendiri. Secara jasamani terbatasi, alasannya jelas bahwa terperangkapnya dia dalam tubuh laki-laki dengan jiwa feminis yang menjadikan dia tidak etis mengerjakan pekerjaan seorang perempuan dalam konteks berlebihan.

Hal lain yang dapat diungkapkan bahwa walaupun si B mengaku telah memiliki hasrat terpendam semenjak kecil ingin menjadi seorang perempuan, Dia mempunyai kebebasan untuk bertindak dalam kehidupan nyata agar dirinya dapat berubah. Terlebih orangtuanya juga mengajarkan dan mendidik. Dia sebagai lelaki tulen tetapi karena kemampuannya untuk menentukan sendiri apa yang Dia pikirkan dan Dia mengkehendaki untuk menjadi seorang waria maka kebebasan eksistensial yang ada dalam dirinya itulah yang lebih mempengaruhi Dia untuk menjadi seorang waria. Pilihan yang disadari itulah dan tanpa tekanan menjadi cermin dari kebebasan eksistensial yang dia miliki.

  • Untuk contoh kasus pada waria C penyebab terjadinya waria yang ditinjau dari kerangka Kluckhon yaitu pada Persepsi manusia tentang waktu pada Orientasi ke masa lalu. Dimana waria C dalam kasus ini menjadi waria karena faktor masa lalunya yang mendapatkan pendidikan dari orang tuanya untuk menjadi seorang wanita padahal Dia dilahirkan sebagai seorang lelaki tulen. Faktor masa lalu inilah yang sebenarnya paling dominan menjadikan si C menjadi seorang waria. Intinya dijebak oleh masa lalu yang dibuat lingkungan sosialnya.

Dalam konteks kebebasan eksistensial itu sendiri, dapat dilihat bahwa C memenuhi hal tersebut, yang terlihat bahwa lingkungan sosial paling terkecil yaitu keluarganya menerima hal tersebut dan tidak mempermasalahkannya. Mungkin di masa mendatang, kebebasan eksistensial itu akan terenggut terutama karena pembatasan kebebasan jasmani, jika dia inigin menikah dengan pacaranya tentunya dia tidak bisa melanggar hal-hal yang bersifat lahiriah, dimana dia harus menjadi wanita sebenarnya dalam konteks fisik untuk pemenuhan kebutuhan biologis sang calon suami.

  • Sedangkan untuk contoh kasus pada waria D penyebab terjadinya waria dapat kami tinjau dari kerangka Kluckhon yaitu hakikat karya untuk mencari nafkah dan kebebasan eksistensial.

Pada sudut pandang kebebasan eksistensial, jelas D mempunyai kebebasan sepenuhnya untuk menjadi waria. Karena dari masa kecilnya pun tidak ada satu faktor pun yang dapat mendorong dirinya menjadi waria. Tetapi ketika Dia bertemu dengan rekan-rekannya baik semasa dia masih mengambil sekolah keterampilan ataupun pada saat dia bekerja, dia merasa nyaman dengan memilih sebagai waria. Dia mendapati dirinya dapat menerima keberadaan teman-temannya sebagai waria yang pada akhirnya, dia sendiri pun juga menjadi waria tanpa ada paksaan dari siapa pun. Sangat mungkin bagi D untuk tidak memilih manjadi waria. Tetapi karena Dia mahluk yang otonom yang mempunyai kebebasan untuk merealisasikan apa yang dia pikirkan maka jadilah D seorang waria.

Walaupun bukan faktor utama pada kasus waria D, salah satu penyebab D menjadi waria dapat kami lihat dari sudut pandang kerangka Kluckhon yaitu Hakikat karya untuk menafkahi hidup. Itu dapat kita lihat pada peristiwa D menjadi seorang PSK untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan bukan hanya hidupnya tapi hidup keluarganya. Oleh karena itulah salah satunya D menjadi seorang waria. Selain itu, ada hal yang dilihat bahwa persepsinya tentang waktu yaitu orientasi masa kini, dimana dia benar-benar telah melupakan masa lalu dia sebagai seorang laki-laki dan masuk dalam dunia baru sebagai akibat dari proses pembelajaran. Hal yang perlu dipertanyakan apakah dia memikirkan masa depan untuk terus terkurung dan terkerangkeng dengan kondisinya masa kini.

Sebelum mengakhiri pembahasan pada bab kedua ini dapat dijelaskan bahwa hampir semua sampel penelitian memiliki dan menyadari keberadaan mereka sebagai manusia yang memiliki kebebasan keberadaan (kebebasan eksistensial), tetapi perlu diingat bahwa tegaknya kebebasan eksistensial ketika kebebasan sosial telah tegak dan tidak adanya batasan kebebasan jasmani dan rohani? Pertanyaannya sekarang bahwa apakah masyarakat sebagai unsur utama yang menerima keberadaan sebuah individu untuk kemudian selaras dengan kebebasan sosial mampu memberi stigma positif atas waria itu sendiri? Satu hal yang begitu dilematis.

Media Massa dan Konstrusi Waria dalam Perspektif Etika

Ditinjau dari segi etika pemberitaan itu sendiri, media massa memiliki kewajiban untuk memberitakan sesuatu seobyektif mungkin. Hal ini tidak terjadi dalam media massa yang melakukan stereotiping terhadap suatu kelompok dan dengan demikian, secara langsung media tersebut melakukan tindakan tidak etis. Jarang kita melihat pemberitaan negatif tentang kaum waria dihadapkan dengan testimonial dari kaum yang terlibat, atau dengan kata lain ada cover both sides sebagai bagian terpenting dari model pemberitaan itu sendiri. Hal ini menuntun masyarakat untuk melakukan penilaian yang tergeneralisasi terhadap kaum waria.

Dari segi etika umum dan kebebasan eksistensial individu itu sendiri, konsekuensi yang terjadi akibat pemberitaan stereotiping media massa telah menimbulkan kerugian bagi kaum waria, terlalu besar dampak dan pembatasan kebebasan yang dilakukan oleh media. Tertutupnya akses sosialisasi dan politik bagi mereka menjadi salah satu contoh kerugiannya. Konsekuensi lain terjadi di level kepribadian kaum waria yang mengalami penolakan. Perlu dikemukakan bahwa kaum waria memiliki self esteem yang rendah. Kebutuhan dasar manusia seperti yang disebutkan Abraham Maslow seperti kebutuhan akan rasa aman, penghargaan, kasih sayang, dan aktualisasi diri juga tidak dapat terpenuhi bagi mereka. Menurut sudut pandang ini, media massa bisa dikatakan melakukan tindakan tidak etis karena dengan stereotiping yang dilakukannya, suatu kelompok menjadi dirugikan. Hal ini semakin tidak etis karena juga bersinggungan dengan hak-hak kaum waria untuk mendapat penerimaan dalam masyarakat.

Dari segi etika subyektif, media massa dapat dikatakan bertindak tidak etis ketika melakukan stereotiping kaum waria. Nilai-nilai azasi manusia dikesampingkan demi kepentingan komersialisasi media massa. Kebebasan memilih sesuai orientasi seksual kaum waria harus dipatahkan dengan adanya pemberitaan yang menyudutkan kaum waria. Sineas atau para pelaku perfilm-an yang coba mengangkat isu waria ataupun LGBT juga mendapat kendala dalam berekspresi ketika harus berhadapan dengan kontroversi yang menyebabkan sulitnya mendapat penerimaan dari masyarakat. Semangat liberasi dalam berpendapat tidak didukung oleh media massa yang telah mendominasi cara pandang masyarakat yang menolak keberadaan waria.

Ada isu moralitas agama, etika antinomian, dan kontrak sosial yang tidak terlepas dari stereotiping yang dilakukan media massa. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, nilai-nilai agama dalam masyarakat Indonesia sangat erat mengikat masyarakat. Media massa yang melakukan stereotiping juga seolah mendapat dukungan dari masyarakat tersebut untuk mengesampingkan kepentingan kaum waria. Peraturan negara sendiri yang tidak membolehkan perkawinan sejenis juga membuat media massa semakin mendapat posisi aman dalam memberitakan kaum waria secara negatif. Berkenaan dengan relativisme budaya Indonesia yang menabukan homoseksualitas, stereotiping menjadi suatu kewajaran dibanding masyarakat dengan budaya yang lebih liberal seperti di Amerika atau Eropa. Gerakan penolakan stereotiping di negara Barat bisa banyak berperan dalam mempengaruhi cara pencitraan kaum waria di sana. Misalnya serial Melrose Place atau yang lebih menggambarkan kehidupan kaum lesbian yaitu serial The L Word. Dalam serial The L Word digambarkan secara berani hubungan sejenis para tokoh perempuan di dalamnya. Keberadaan serial ini menunjukkan bahwa di negara Barat LGBT termasuk waria itu sendiri sudah menjadi hal yang umum meski tidak serta merta diterima oleh semua masyarakat. Ada indikasi kebebasan dalam berekspresi yang tidak lain adalah esensi dari kebebasan eksistensial bahwa berilah setaip individu kebebasan berekspresi selama itu tidak mengganggu.

 

Kesimpulan

 Berdasarkan rumusan masalah yang telah dibuat dan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa

1. Berdasarkan hasil observasi dapat dikemukakan bahwa faktor yang menyebabkan munculnya waria pada empat responden sebagai berikut : A (faktor sosiogenik berupa tuntutan pekerjaan), B (faktor psikologis berupa pengalaman masa kecil dan kemungkinan faktor biogenik/bawaan biologis), C (faktor psikogenik yaitu didikan masa kecil dari orang tua menjadi wanita dan faktor trauma orang tua yang membuat si anak terjebak), dan D (faktor sosiogenik yaitu masuknya dalam komunitas yang mematangkan orientasi seksualnya)

2. Secara kritis dapat diungkapkan melalui perspektif etika bahwa A (Hakikat nafkah hidup yaitu tuntutan menyambung kehidupan), B (persepsi masa lalu, dimana masa lalunya diwarnai dengan sifat perempuan yang tidak bisa dibendung hingga saat ini), C (orientasi persepsi masa lalu dimana dididk orang tuanya dengan didikan perempuan dan dijebak oleh lingkungan sosialnya diaman sang ibu mengharapkan dia lahir sebagai seorang perempuan), dan D (Hakikat nafkah yaitu sesuai dengan lingkungan kerjanya dan orientasi masa kini dimana dia tidak pernah melihat masa lalu dan memikirkan masa depannya ke depan. Terkait dengan kebebasan eksistensial, hampir semuany menyadari dan melaksanakan seutuhnya hal tersebut, namun ada satu responden yang terbatasi oleh kebebasan jasamani karena keinginannya menikah dengan sang pacar yang tentunya jenis kelamin secara biologis sama. Namun perlu diingat bahwa masalah utamanya bahwa mampukah masyarakat secara umum  mengakui kebebasan tersebut untuk memebri kebebasan sosil seutuhnya sehinggan muncul kebebasan eksisitensial seutuhnya.

3. Media Massa mengkonstruksi waria melalui pemberitaannya secar tidak adal dan tidak mengedepankan aspek cover both side. Kensekuensi pemberitaan tersebut telah membuat kebebasan waria terkekang dan dibatasi dalam berbagai bidang, apaladi berita tersebut menyudutkan kaum waria.

Nilai agama mendukung pembatasan kaum waria tersebut, peratutran pun tidak membolehkan. Namun kesemuanya itu tidak eis karena menyangkut hak orang lain untuk mendapatkan kenikmatan hidup. Relativisme budaya pun menyebabkan hoomoseksualitas tidak diterima di budaya timur sehingga mengekang krativitas untuk menampilkan sosok waria sebenarnya dalam dunia media tanah air.

 Saran

Adapun saran yang dapat dikemukakan berdasrkan apa yang telah dibahasa dan dianalisis sebelumnya yaitu sebagai berikut :

1. Secara lebih besar, pemerintah harus melakukan program dan peninjauan kembali tentang peraturan perunadang-undangan maupun aturan tertulis lainnya yang erat kaitannya dengan pengakuan keberadaan seorang waria pada khususnya dan kaum LGBT pada umumnya. Peninjauan kembali tersebut diharapkan mampu memberi tempat kepada kaum waria tersebut untuk mengekspresikan diri dalam alam demokrasi.

2. Media sebagai bagian dari kontrol social di negeri ini perlu lebih mengedepankan konsep pemberitaan yang cover both side dan perlu mendukung waria melalui konstruksi realitas yang mereka buat baik melalui media cetak, media elektronik, maupun internet, sehingga masyarakat sebagai penikmat media menyadari itu dan mampu menerima eksistensi kaum waria.

3.   Masyarakat sebagai lingkup terkecil dari negeri ini perlu mendapatkan  dan menyadari tentang multikulturalisme secara gender bahwa kaum LGBT terutama waria bukanlah hal yang negative atau buruk. Hal itu bisa didapatkan melalui pendidikan, sosialisasi, dll, sehingga terbentuk kesadaran kolektif oleh masyarakat tentang gender itu sendiri.

Demikianlah hasil wawancara yang singkat yang saya lakukan untuk dapat mengetahui fenomena waria di Indonesia. Juga beberapa pembahasan yang saya kemukakan beserta kesimpulan dan saran yang dapat saya berikan. Jika ada kekurangan atau kesalahan dalam penulisan ataupun pembahasan saya, saya mohon dimaafkan. Terima kasih.

 

*gambar ethics diambil dari : http://3.bp.blogspot.com/-mCxwTRudLyw/TexZo0YphAI/AAAAAAAABGw/TpTTxVLfXEo/s400/ethics-large1.jpg

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s